Naura divonis
mengidap penyakit Lupus saat dia masih kuliah di fakultas ekonomi jurusan
akuntansi semester enam. Pengobatan langsung dilakukan oleh Naura karena Lupus
adalah termasuk penyakit mematikan yang setara dengan kanker. Namun pengobatan
yang dilakukan oleh Naura tidak bisa menyembuhkan, karena Lupus termasuk dalam
golongan penyakit yang belum ditemukan cara pengobatannya agar bisa sembuh total.
Saat ini Naura sudah
bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai accounting. Dia menjalani
hari-harinya dengan cara yang sangat normal seperti orang sehat pada umumnya.
Penyakit yang bersarang di dalam tubuhnya, sama sekali tidak membuatnya menjadi
gadis yang lemah dan manja.
Ketika Lupus
sedang aktif di dalam tubuhnya, seluruh badannya akan terasa pegal, lemah,
kelelahan yang berlebihan, dan muncul ruam merah di kedua pipi dan hidungmya.
Maka dia memilih untuk beristirahat agar tidak semakin tersiksa. Sebagai Odapus
(orang hidup dengan Lupus) Naura harus menghindari beberapa hal, seperti terkena
sinar matahari langsung, mengurangi beban kerja yang berlebihan, menghindari
pemakaian obat tertentu, dan stres. Karena jika semua itu dilanggar, akan dapat
membangunkan Lupus yang tertidur dalam tubuhnya.
♥♥♥♥♥♥
Hampir delapan
tahun Naura menjalin hubungan dengan Eshan, kakak kelasnya saat SMU dulu. Saat
Naura resmi divonis mengidap penyakit Lupus, dia langsung menceritakannya
kepada Eshan. Mendengar hal itu Eshan syok, dia sama sekali tidak siap
mengetahui wanita yang dicintainya terkena penyakit yang mematikan. Menyadari
kondisinya, Naura menyerahkan nasib cintanya kepada Eshan. Dia tidak ingin
memaksa Eshan untuk terus bersamanya jika memang Eshan tidak mau, dia tidak
ingin penyakitnya dijadikan sebagai senjata untuk menahan Eshan agar tetap
tinggal di sisinya.
Setelah dua
minggu berpikir, Eshan memutuskan untuk tetap melanjutkan hubungannya dengan
Naura. Berbagai konsekuensi dan resiko yang sudah disampaikan oleh Naura
tentang penyakitnya, tidak membuat Eshan merubah keputusannya. Eshan mantab untuk
terus bersama Naura dan tidak memutuskan hubungan mereka. Naura sangat bahagia
dengan keputusan Eshan, dia bersyukur Eshan bisa menerima kondisinya yang tidak
sehat.
Saat ulang
tahunnya yang ke dua puluh lima, Naura dilamar oleh Eshan. Dengan makan malam
romantis di sebuah restoran, Eshan menyatakan keinginannya untuk menikah dengan
Naura. Tanpa berpikir lama, Naura langsung menerimanya. Sebuah cincin
disematkan oleh Eshan di jari manis kiri Naura. Seketika itu juga hati Naura
berbunga-bunga karena dia akan menikah dan memiliki kebahagiaan seperti orang
lain yang hidup normal.
♥♥♥♥♥♥
Eshan berjanji
akan segara membawa orang tua dan keluarganya untuk melamar Naura secara resmi.
Namun hingga tingga bulan lamanya, Eshan belum juga datang bersama keluarganya
untuk melamar Naura. Naura pernah bertanya dua kali, tapi Eshan selalu menjawab
waktunya belum tepat dan memintanya untuk bersabar.
Hari Jum’at
malam, Eshan datang ke rumah Naura. Wajahnya terlihat suram dan layu, seolah
menyimpan kesedihan yang besar.
“Kamu kenapa, Shan?”
Eshan menatap
sedih kepada Naura. “Sayang....aku harus mengatakan sesuatu yang tidak baik
sama kamu.”
Naura
mengernyitkan dahi. Perasaannya mendadak jadi tidak enak. “Sesuatu yang tidak
baik? Apa?”
“Aku tidak bisa
melanjutkan hubungan kita. Kita tidak bisa menikah.” jawab Eshan pelan dan
terdengar sangat berhati-hati.
Naura terkejut
bukan main. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga. Tubuhnya yang
langsung terdiam mematung. Matanya sama sekali tidak berkedip menatap Eshan.
Eshan dengan
cepat memegang kedua tangan Naura yang membeku. “Naura maafkan aku. Maafkan
aku, sayang.. Aku tau ini pasti membuat kamu syok. Tapi aku tidak punya pilihan
lain. Ini sama sekali bukan kemauan ku, tapi aku tidak berdaya untuk
menolaknya. Semua ini salahku, aku tidak pernah jujur pada orang tuaku tentang
keadaan kamu. Aku tidak bercerita pada mereka setelah kamu memberi tau tentang
penyakitmu padaku. Aku sengaja menutupinya dari mereka. Selama ini mereka
merestui hubungan kita karena mereka mengira kamu gadis baik dan cerdas yang
badannya sehat. Tapi tiga hari setelah aku melamar kamu, aku akhirnya
menceritakan semua tentang kondisimu kepada mereka. Orang tuaku terutama papa
ku tidak setuju aku menikah dengan kamu. Aku anak laki-laki satu-satunya di
keluargaku, ketiga adikku perempuan. Orang tuaku dan keluargaku menaruh harapan
yang besar padaku. Mereka ingin aku memiliki istri yang sehat dan bisa
memberikan keturunan. Aku sudah berusaha untuk membujuk dan melunakkan hati
kedua orang tuaku, tapi usahaku selama tiga bulan ini tetap tidak berhasil.
Orang tuaku tetap tidak memberikan izin dan restu. Mereka tetap memintaku untuk
mengurungkan niat menikah dengan kamu. Maafkan aku, Naura...” ucap Eshan penuh
penyesalan dan rasa bersalah. Kedua matanya berkaca-kaca.
Pedih sekali
hati Naura bagai tertusuk berkali-kali. Sangat sakit mendengar penolakan dari
keluarga kekasihnya yang selama ini telah menerimanya dengan baik. Penyakitnya
telah menghancurkan segala kebahagiaan dan impian yang selama ini sudah
dirajutnya. Harapan untuk hidup bersama dengan orang yang sangat dicintainya
mendadak musnah. Segala rencana yang sudah disusunnya dengam sempurna, punah
dalam sekejap.
Naura tidak
mampu menahan air matanya yang jatuh. Butiran bening menetes di kedua matanya
dan terus menetes. Dia melepaskan kedua tangannya dari genggaman Eshan dan
menghapus air matanya. Dalam hati dia berusaha untuk menguatkan diri walaupun
hatinya perih luar biasa.
Naura menghela
nafas dan mencoba menahan air matanya agar tidak terus terjatuh. “Aku bisa
memahami keputusan orang tuamu, Eshan. Aku bisa mengerti sikap mereka. Sangat
masuk akal jika mereka melarang satu-satunya anak laki-laki mereka menikah
dengan perempuan sakit seperti aku. Itu sangat wajar, setiap orang tua pasti
akan seperti itu. Kamu adalah putra mahkota, berjuta harapan dari orang tuamu
telah digantungkan padamu. Kamu tidak boleh mengecewakan mereka. Selama ini
keluargamu sangat baik padaku, orang tuamu perhatian padaku, aku tidak mau
menyakiti mereka.” ucapnya dengan sangat tegar.
Eshan semakin
merasa sedih. Dia semakin merasa bersalah pada Naura karena tidak jujur sejak
awal tentang penolakan orang tuanya. “Maafkan aku, Naura.” ucapnya sekali lagi.
Naura melepaskan
cincin di jari manisnya tapi Eshan buru-buru mencegahnya. “Kenapa, Eshan?”
“Jangan kamu
kembalikan cincin itu. Aku mohon simpanlah sebagai kenangan dariku, bahwa aku
pernah ada di hatimu dan sangat mencintaimu.”
Naura ragu,
namun dia memakainya kembali.
♥♥♥♥♥♥
Perpisahannya
dengan Eshan membuat Naura sangat patah hati. Kepedihan terus menyelimuti
hatinya, semangat dalam dirinya menghilang, dan keceriaan yang selama ini ada
telah meredup. Kondisinya yang seperti itu memicu penyakitnya semakin berkuasa
dalam tubuhnya. Dokter sudah menasihatinya berkali-kali untuk menjaga kesehatan
dan kestabilan psikisnya agar tidak stres, tertekan, dan kelelahan namun Naura
seperti mengabaikannya. Dia terus saja dikalahkan oleh rasa sakit di hatinya.
Dia memilih untuk menyibukkan diri dengan bekerja hingga lupa menjaga kondisi
badannya.
Orang tua dan
keluarga Naura selalu berusaha untuk membuat Naura melupakan sakit hatinya.
Mereka juga berusaha mencegah Naura untuk tidak bekerja terlalu keras. Mereka tidak
ingin kondisi Naura yang terus menurun semakin parah. Tapi ternyata itu tidak
mudah, Naura terlalu patah hati dan putus asa. Cintanya yang besar untuk Eshan,
membuatnya tidak bisa begitu saja melupakan Eshan. Cincin pemberian Eshan
bahkan masih dipakainya sebagai hiasan kalung. Naura sengaja membiarkan dirinya
semakin terpuruk dalam kesedihan dan tenggelam dalam kesibukkan kerja yang
membuat tubuhnya semakin melemah.
Delapan bulan
kemudian, ada seorang karyawan baru yang dimutasi di kantor Naura. Umurnya 30
tahun, lulusan S2, prestasi kerjanya sangat bagus, single, dan kepribadiannya
baik. Dia menjabat sebagai manajer, atasan Naura yang baru menggantikan manajer
lama yang mengundurkan diri. Sejak pertama bekerja, Adnan sudah terkesima
dengan keanggunan Naura. Kecerdasan dan keuletan Naura dalam bekerja membuatnya
kagum dan menaruh respect.
Perlahan namun
pasti, Adnan berusaha mendekati Naura. Dia mengumpulkan informasi tentang Naura
secara diam-diam dari para karyawan yang ada di kantor. Termasuk penyakit Lupus
yang diderita Naura tidak luput dari pencarian informasi yang dilakukannya
selama dua bulan. Di mata Adnan, Naura adalah pribadi yang unik dan
mengagumkan. Dia sangat terpesona dengan sikap rendah hati, keramahan, dan
kebaikan Naura kepada semua orang. Tidak heran jika Naura sangat disukai di
kantornya.
♥♥♥♥♥♥
Setelah satu
setengah tahun berpisah dengan Eshan, Naura mulai membuka diri pada Adnan.
Sikap Adnan yang sangat baik, sabar, dewasa, dan menerima dia apa adanya membuat
hatinya mulai luluh. Namun sikapnya yang mulai terbuka pada Adnan tidak
kemudian membuatnya menerima Adnan begitu saja. Naura tidak mau jika patah hati
lagi untuk kedua kalinya, dia belum siap untuk hancur lagi.
Adnan tau jika
Naura belum bisa menerima dirinya karena luka yang ada di hatinya masih belum
sembuh, namun dia tidak mau menyerah dengan mudah. Dia tau Naura sangat patah
hati karena putus dan gagal menikah dengan pacarnya. Dengan penuh keyakinan, Adnan
terus berusaha untuk mencairkan kebekuan hati Naura. Dia tetap sabar menunggu
sampai nanti dia berhasil mendapatkan hati dan cinta Naura.
Untuk kelima
kalinya dalam tiga bulan, Naura berusaha meyakinkan Adnan bahwa dirinya
bukanlah wanita yang tepat untuknya.
“Aku sakit,
Mas.. Kamu bisa mencari wanita lain yang sehat. Kamu orang yang sangat baik,
kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku.”
“Naura, wanita
seperti apa yang pantas untuk aku itu aku sendiri yang menentukannya. Bukan
orang lain. Karena kepantasan itu aku sendiri yang tau. Bagiku, kamulah wanita
yang sangat pantas untukku.”
“Tapi aku sakit
dan kamu tau itu.”
“Aku tau kamu
sakit Lupus dan kondisimu sekarang terus menurun.”
“Aku tidak mau
dikasihani, Mas..”
“Aku tidak
mengasihani kamu. Aku mencintai kamu. Itu berbeda dengan rasa kasihan, Naura!” Adnan
meyakinkan.
“Apa kamu yakin
bisa menerima kondisiku? Penyakitku?”
“Apa selama ini
aku pernah keberatan? Aku pernah komplain ke kamu?”
“Tapi bagaimana
dengan keluarga kamu, Mas? Mereka belum tentu bisa menerima keadaanku.”
“Keluargaku
menyerahkan segalanya padaku. Orang tuaku dan kedua kakakku memberi kebebasan
padaku untuk mengambil keputusan apapun dalam hidupku, selama keputusan itu
terbaik untukku. Aku sudah menceritakan kondisi kamu yang sebenarnya pada
mereka, Alhamdulillah mereka bisa mengerti dan menerima.”
Naura
terbengong, dia sama sekali tidak mengira keluarga Adnan bisa menerima
keadaannya. Sikap yang sangat bertolak belakang dengan keluarga Eshan. “Kamu
yakin keluargamu bisa menerima penyakitku, Mas?” tanyanya memastikan.
Adnan mengangguk
dengan mantab. “Iya. Kalau kamu ingin lebih yakin, aku bisa mengajakmu bertemu
dengan keluargaku. Kamu bisa bertanya langsung pada mereka.”
Naura tersenyum
sedikit. Ada kelegaan dan kegembiaraan dalam hatinya. Tanpa disadarinya,
sebenarnya telah ada perasaan cinta untuk Adnan belakangan ini. Namun perasaan
itu baru tumbuh 30% di dalam hatinya.
♥♥♥♥♥♥
Pengobatan terus
dijalani oleh Naura. Dia tidak pernah bisa lepas dari obat-obatan yang
diberikan oleh dokter seumur hidupnya. Efek dari penyakitnya dan pengobatan
yang terus dijalani membuat rambut Naura menjadi rontok, trombositnya rendah,
badannya sering terasa lemah, dan penglihatannya menurun.
Cinta Adnan
untuk Naura sangat besar, dengan penuh keikhlasan dia ikut ambil bagian
mengurusi Naura. Dia sering menemani Naura ke dokter, mendampinginya saat Lupusnya
kambuh, dan selalu menyemangatinya ketika Naura merasa jenuh bergantung pada
obat-obatan.
Kondisi Naura
yang tidak stabil dan penglihatannya yang terus menurun, memaksanya mengambil
keputusan untuk keluar dari pekerjaannya. Tubuhnya sudah tidak bisa lagi diajak
beraktivitas dengan baik, Lupus yang belakangan ini sering aktif membuatnya
semakin lemah dan tak berdaya.
Naura sedang
tiduran di kamarnya, wajahnya sangat pucat. Ruam merah di kedua pipi dan hidungnya
membentuk seperti kupu-kupu. Di seluruh kulit tubuhnya juga muncul ruam merah
yang menonjol dan bersisik. Tubuhnya lemah karena antibodinya menyerang
langsung jaringan sel tubuh dan menghancurkan sel-sel darah merah yang
mengakibatkan dia menjadi anemia.
“Lupy, kenapa
kamu terus menyerangku? Bukankah kita ini ‘sahabat’ karena kamu ada dalam
tubuhku? Bekerjasamalah denganku, Lupy.. Jangan membuatku semakin lemah begini.
Kasihan orang-orang di dekatku, mereka ikut repot karena kita berdua. Kita
tidak boleh menyusahkan mereka, Lupy.. Mereka sangat menyayangiku dan sudah
sangat baik padaku. Tidurlah dengan tenang dalam tubuhku, Lupy.. Jangan
terbangun dan terus menyerangku, kita kan bukan musuh tapi sebuah kesatuan. Aku
sudah rela berbagi tempat denganmu di dalam tubuhku, aku mohon bersikaplah baik
padaku.” ucap Naura sambil mengelus ruam merah di lengannya, seolah berbicara
dengan penyakitnya.
♥♥♥♥♥♥
Lima bulan
berlalu, kondisi Naura semakin memburuk. Organ-organ tubuhnya sudah tidak bisa
berfungsi dengan baik. Dia bahkan sudah kehilangan 60% penglihatannya. Untuk pergi
kemana-mana dan melakukan apa-apa, Naura banyak dibantu orang lain. Dokter
mengatakan Naura mengidap Lupus jenis Systemic Lupus Erythematosus yang
menyerang organ tubuh tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah,
pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf.
Dengan berat
hati, Naura harus memakai kursi roda jika ingin pergi agak jauh dan waktunya
lumayan lama. Bukan karena dia mendadak lumpuh, tapi karena kondisi tubuhnya
yang semakin melemah membuatnya sering merasa kelelahan yang luar biasa.
Melakukan aktivitas sebentar atau jalan beberapa saat, dia sudah merasa badannya
lemas dan sangat lelah.
Kondisi Naura
yang seperti itu tidak membuat Adnan mundur namun sebaliknya, Adnan malah mengajak Naura untuk menikah.
Jelas saja keinginan Adnan itu langsung ditolak oleh Naura, bagi Naura sangat
tidak mungkin dia membiarkan Adnan menikahi wanita yang sakit parah seperti
dirinya. Adnan berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dan sehat untuk
mendampinginya sebagai istri.
Adnan tidak mau
menerima penolakan Naura, dia terlalu mencintai Naura. Keputusannya untuk
menikah dengan Naura sudah bulat. Dia pun memberanikan diri untuk bertemu
dengan orang tua dan kakak Naura. Dengan penuh keyakinan, Adnan menyampaikan
keinginannya untuk menikahi Naura. Apapun konsekuensi dan resikonya, Adnan siap
menanggungnya. Pada awalnya orang tua Naura tidak setuju, mereka sadar diri
dengan kondisi Naura yang sakit parah. Mereka tidak ingin menyusahkan Adnan dan
membuatnya mengorbankan diri. Namun kegigihan dan kemantaban Adnan serta restu
dari orang tua yang sudah didapatkannya, akhirnya mampu meluluhkan hati orang
tua Naura untuk memberikan izin menikah dengan Naura.
♥♥♥♥♥♥
Naura dan Adnan akhirnya
menikah dengan acara yang sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga, kerabat
dan teman-teman dekat seperti keinginan Naura. Setelah menikah, mereka tinggal
di rumah baru yang dibeli Adnan sebelum melamar Naura. Karena kondisi Naura
yang sakit, Adnan sudah menyiapkan dua pembantu untuk mengurus rumah dan
membantu Naura saat Adnan sedang tidak ada di rumah.
Sejak resmi
menikah, Adnan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bersama Naura. Pulang
kerja, dia memilih untuk langsung pulang. Terkadang dia mengajak Naura pergi jalan-jalan
agar tidak bosan di rumah. Dengan sangat sabar Adnan menuntun Naura berjalan
saat kursi rodanya tidak dipakai, menyuapi Naura agar makannya lebih berselera,
membantu Naura berdandan dan berpakaian agar terlihat lebih segar, dan banyak
lagi hal lainnya. Adnan melakukan semuanya dengan tulus dan ikhlas untuk istri
yang sangat dicintainya.
Adnan mengamati
Naura yang tidur di sampingnya. Naura sangat pucat dengan ruam merah di
wajahnya. Rambutnya yang dulu panjang dan lebat, sekarang sudah menepis dan
dipotong pendek. Adnan membelai wajah Naura dengan lembut. Tatapannya nanar
menyimpan kepedihan.
“Andaikan kita
bisa bertukar tempat, biarkan aku yang menggantikan posisimu mengidap penyakit Lupus.
Biar aku yang menanggung rasa sakitnya. Aku benar-benar tidak tega melihatmu
seperti ini. Tidak pernah sekalipun aku berhenti berdo’a agar ada mu’jizat yang
dapat mengangkat penyakitmu dari tubuhmu. Aku ingin sekali melihatmu sembuh,
sayang..” ucap Adnan lirih.
Naura
menggerakkan kepalanya. Matanya tetap terpejam.
“Ya
Allah....berikanlah keajaiban untuk istri hamba. Berikan mu’jizat kesembuhan
untuk Naura. Engkau Maha Segalanya, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Mu. Hamba
percaya dengan Kebesaran-Mu, Ya Rabb..” do’a Adnan penuh harap.
Naura
menggerakkan lagi kepalanya lalu membuka kedua matanya perlahan. Dia melihat
Adnan sedang menatapnya. Air mata mengalir dari mata Adnan. Tangan kanan Adnan
menyentuh pipinya.
Naura berkedip,
dia sedikit menyipitkan matanya. Dia fokus memperjelas pandangan matanya. Dia
menatap Adnan dengan bingung. Dengan penglihatan yang terbatas, dia melihat
Adnan masih terjaga. “Mas Adnan kok belum tidur?” tanyanya penasaran.
Adnan tiba-tiba
sadar kalau matanya basah. Cepat-cepat dia menghapus air matanya dan tersenyum.
Dia tidak ingin Naura melihatnya menangis. “Belum bisa tidur, sayang.. Kamu
kenapa terbangun? Apa aku membangunkan kamu?”
Naura menggeleng
pelan. “Engga kok, Mas.. Aku memang terbangun sendiri.”
“Kenapa, Naura?
Apa ada yang sakit?” tanya Adnan khawatir.
“Engga, Mas..
Aku ngga pa-pa.”
Adnan tersenyum.
“Kalau kamu ada apa-apa, jangan ragu bilang sama aku. Kalau ada yang sakit,
langsung beri tau ya..”
Naura
mengangguk. “Iya, Mas..” jawabnya. “Mas, aku bersyukur sekali sudah diberikan
anugerah kebahagiaan yang sangat indah. Walaupun aku diberi sakit seperti ini,
tapi Allah juga memberiku kebahagiaan yang tak ternilai. Aku sudah diberi
kesempatan untuk merasakan indahnya menikah dan memiliki keluarga.”
Adnan tersenyum.
“Allah itu Maha Adil, sayang..”
Naura ikut
tersenyum. “Iya. Terima kasih ya, Mas.. Selama ini kamu sudah sangat baik sama
aku. Bisa menerima aku apa adanya dengan ikhlas.”
Adnan membelai
kepala Naura dengan penuh rasa sayang. “Aku sangat mencintai kamu. Apapun akan
aku lakukan untuk kamu, sayang..”
“Tapi kamu
mencintai tubuh yang salah, Mas..”
“Tapi aku mencintai
hati yang tepat. Hati yang penuh dengan kasih sayang, kelembutan, dan
kedamaian. Hatimu adalah rumah terindahku. Di sanalah aku tinggal, rumah yang
penuh dengan kehangatan dan kebahagiaan.”
“Bagaimana jika
nanti aku benar-benar buta dan tubuhku semakin tak berdaya?”
“Aku akan
menggenggam tanganmu erat-erat. Aku akan menuntunmu dan menjadi penunjuk
jalanmu. Jika tubuhmu nanti tak lagi memiliki daya, aku akan menggendongmu
kemanapun kamu mau pergi. Selamanya, aku tidak akan pernah melepaskan kamu.
Karena hatimu adalah rumahku, maka di sisimulah aku akan tinggal.”
“Lalu......bagaimana
jika aku mati nanti? Aku merasa hidupku tidak akan bisa bertahan lama dengan
kondisiku yang seperti ini.”
“Jika nanti
Allah memanggilmu, maka tutuplah kedua matamu dalam pelukanku. Saat itu aku
akan mengantarkan kepergianmu dengan cinta dan do’a.”
Hati Naura
sangat tersentuh mendengar ucapan Adnan. Dia terharu bercampur bahagia karena
begitu dicintai oleh Adnan. Tangannya menyentuh wajah Adnan, matanya meneteskan
bulir bening. “Aku juga sangat mencintaimu, Mas..”
Adnan mencium
kening Naura lalu memeluknya erat.”
♥♥♥♥♥♥
Setelah menikah
dengan Adnan, Naura menemukan kembali semangat hidupnya. Dia mulai membangun
kembali harapannya yang dulu pernah berantakan. Namun sangat disayangkan,
penyakitnya sudah terlanjur menyebar di seluruh tubuhnya. Kondisinya tidak bisa
banyak berubah. Antibodi
yang terbentuk dalam tubuhnya terus muncul secara berlebihan karena penyakit Lupusnya,
sehingga mengakibatkan antibodi itu menyerang sel-sel jaringan organ tubuhnya
yang sehat. Kelainan itu disebut dengan autoimunitas. Akibat kelainan itu organ-organ
tubuhnya rusak dan fungsinya semakin menurun.
Naura tidak mau menyerah dengan
penyakitnya. Dia terus berusaha untuk bisa kuat mengahadapi Lupus yang tak
berhenti melemahkan tubuhnya. Berbagai macam obat yang diberikan oleh dokter,
tidak pernah lupa diminumnya. Segala hal yang bisa membuat Lupus terbangun dan meraja
lela di dalam tubuhnya, dihindarinya dengan semaksimal mungkin. Naura
menghindari stres, kelelahan, sinar matahari secara langsung, dan menjaga
makanan yang dimakannya agar kondisinya bisa lebih stabil.
Usaha yang dilakukan Naura tidak bisa
membawa banyak perubahan. Setelah beberapa bulan, penglihatannya semakin menurun.
Dalam situasi yang minim cahaya, pandangannya sudah gelap. Dia harus melihat
segala sesuatu dari jarak yang sangat dekat, itupun tidak bisa maksimal. Organ
tubuhnya yang lain juga sudah semakin terganggu fungsinya. Naura harus banyak
beristirahat dan tidak boleh banyak beraktivitas maupun berpikir keras.
Terkadang Naura merasa ingin menyerah
pada penyakitnya, jika Lupus dalam tubuhnya mulai aktif dan membuatnya sulit
menghadapinya. Namun cintanya pada Adnan dan pengorbanan Adnan untuknya selama
ini membuatnya terus menguatkan diri untuk bertahan. Rasa sakit dalam tubuhnya
terus dilawannya seiring kesetiaan Adnan yang tidak pernah lelah untuk menyemangatinya.
♥♥♥♥♥♥
Adnan masuk ke
dalam kamarnya untuk mengambilkan obat-obatan Naura. Dia mencari-cari ke dalam
laci meja dan tidak sengaja menemukan sebuah buku. Dia mengambilnya dan
membukanya. Buku itu ternyata diary milik Naura. Adnan ragu untuk membacanya,
namun hati kecilnya tiba-tiba merasa penasaran dan ingin tau isinya. Dia duduk
di tepi kasur dan memulai membacanya.
Adnan membaca cepat
semua tulisan yang tertuang dalam diary coklat bergambar piano itu. Semakin ke
belakang, tulisan Naura semakin tidak rapi karena disebabkan penglihatannya
yang terus menurun. Di halaman belakang, hanya ada dua baris kalimat yang
terpotong dengan tulisan berantakan. Adnan membaca tanggal yang ada di kanan
atas, sudah satu bulan yang lalu. Itu terakhir kali Naura menulis di diarynya,
karena di halaman berikut-berikutnya kosong. Dari kalimat yang dibaca oleh
Adnan, dia tau Naura tidak sanggup lagi melanjutkan tulisannya. Tulisannya
sudah sangat berantakan, naik turun tidak karuan. Mungkin saat itu penglihatan
Naura sudah sangat memburuk sehingga dia kesulitan melihat tulisannya sendiri.
Adnan membuka
lagi lembar sebelum tulisan terakhir Naura. Dia membaca kembali dengan perlahan-lahan.
Tulisan itu tertanggal empat bulan setelah mereka menikah. Tulisannya yang
tidak rapi lagi sengaja ditulis besar-besar agar bisa dilihat dengan lebih
mudah oleh Naura, mengingat kemampuan melihatnya yang sudah menurun.
Aku
sangat bahagia dengan pernikahanku. Menikah dengan mas Adnan adalah sebuah
anugerah terindah yang tak ternilai dalam hidupku. Ketika aku diberi cobaan
yang sangat besar oleh Tuhanku, mengidap penyakit Lupus yang kemudian membuatku
kehilangan kekasihku yang sangat aku cintai saat itu. Hingga membuatku
tenggelam ke dasar lautan kepedihan, membuatku terpuruk di sana untuk waktu
yang lama. Keputusasaanku yang panjang telah membebaskan Lupus berkuasa dalam
tubuhku hingga dia berhasil menghancurkan organ-organ tubuhku yang sehat.
Namun kemudian Tuhan menghadirkan mas Adnan
dalam hidupku. Ketulusannya mencintaiku dan menerimaku apa adanya adalah sebuah
pengorbanan besar. Keikhlasannya untuk menikah denganku dan menjalani hidup
bersamaku telah berhasil mengambil seluruh sisa hatiku untuk mencintai dia
sepenuhnya.
Sungguh
luar biasa rencana Tuhan. Sama sekali tidak ku sangka sebelumnya. Dalam hidupku
yang nelangsa ini, ternyata masih ada kebahagiaan lain yang disiapkan oleh
Tuhan untukku. Di sisa waktuku, aku diberi sebuah ketulusan cinta yang tak
bersyarat, kebahagiaan yang luar biasa indah, dan kesempatan merasakan manisnya
sebuah pernikahan. Sama sekali tidak berbeda dengan mereka yang memiliki
kehidupan normal dengan tubuh yang sehat.
Kata
orang, kesempurnaan itu tidak ada di dunia ini. Tapi bagiku, kesempurnaan itu
ada. Apa yang aku miliki sekarang, bagiku sudah sempurna. Memiliki semuanya
yang sangat mencintaiku dan aku cintai, keluarga yang penuh kehangatan, dan pernikahan
yang sangat bahagia. Mas Adnan telah mengajariku melihat kehidupan ini dengan
mata hati, rasa syukur, dan keikhlasan. Sehingga aku mampu melihat hidupku
dengan sempurna.
Terima
kasih suamiku tercinta, mas Adnan.....
Air mata Adnan
menetes dari kedua matanya. Dia menutup diary Naura dan terdiam.
♥♥♥♥♥♥
Empat hari
setelah merayakan satu tahun perkawinan, Naura masuk rumah sakit. Kondisinya
memburuk drastis sehingga harus mendapat perawatan intensif dari dokter. Adnan
dengan setia menemani Naura selama 24 jam. Dia bahkan sengaja mengambil cuti
karena tidak ingin meninggalkan Naura.
Adnan tidak
berhenti berdo’a untuk Naura. Dia selalu duduk di samping Naura sambil mengaji,
berdzikir, dan berdo’a secara bergantian. Naura yang mulai hilang kesadaran
sudah tidak bisa lagi mengetahui segala hal yang ada di sekitarnya. Dia hanya
terbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam dan peralatan medis yang
menempel di tubuhnya.
Segala usaha
sudah dilakukan oleh dokter yang menangani Naura. Namun Tuhan berkehendak lain.
Setelah sepuluh hari dirawat di rumah sakit, Naura menghembuskan nafas
terakhirnya pukul sebelas malam lebih sepuluh menit. Perjuangan keras yang
dilakukannya selama ini harus berakhir. Dia akhirnya menyerah pada Lupus yang
sudah menjadi tuan dalam tubuhnya dan berkuasa penuh untuk mengalahkannya.
Adnan yang sudah
menyiapkan diri sejak awal dia memutuskan untuk menikahi Naura, terlihat sangat
tegar menerima kematian Naura. Dia memeluk erat tubuh Naura dan mencium keningnya
beberapa kali. Dia memenuhi janjinya untuk memeluk Naura saat Naura pergi untuk
selama-lamanya. Untaian do’a telah diucapkannya untuk mengiringi keprgian
Naura. Dengan suara lirih, dia membisikkan kalimat perpisahan ke telingan
Naura.
“Selamat jalan
kekasih sejatiku. Pergilah dengan tenang, sayang.. Aku sudah melepasmu dengan
ikhlas. Bawalah cintaku dan simpanlah dalam hatimu. Jaga baik-baik, suatu saat
nanti aku akan pulang ke sana dan tinggal bersamamu lagi.”
Keesokan harinya,
Naura dimakamkan. Banyak pelayat yang datang untuk mengantarkan kepergian
Naura. Keluarga, kerabat, sahabat, teman, rekan kerja, dan tetangga berkumpul
untuk mendo’akan dan melepaskan Naura menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Saat semua pelayat pulang, Adnan masih tinggal di pemakaman. Dia bersimpuh di
samping pusara Naura yang bertabur banyak bunga.
Adnan tidak
sanggup lagi menahan air matanya. Kesedihan yang luar bisa menyelimuti
perasaannya. Hatinya sangat pedih dan terluka kehilangan orang yang sangat
dicintainya. Tangannya berkali-kali mengelus papan kayu bertuliskan nama Naura
dan menyentuh timbunan tanah yang tertutup dengan taburan bunga. Dia berdo’a
lalu mengucapkan beberapa kalimat untuk Naura.
“Terima kasih,
sayang.. Kamu sudah mencintaiku sepenuh hatimu. Terima kasih untuk kebahagiaan
yang kamu rasakan bersamaku. Kamu adalah bidadariku, anugerah terindah dalam
hidupku. Kamu telah mengajariku tentang arti perjuangan dan sikap berdamai
dengan kenyataan. Kelembutanmu, sifatmu yang penyayang dan tidak pernah marah, serta
ketegaranmu akan ku tanamkan dalam diriku agar aku bisa menjadi pribadi yang
lebih baik lagi. Walaupun kebersamaan kita tidak lama, namun setiap detik waktu
bersamamu adalah saat terindah dalam hidupku yang paling membahagiakan.
Selamanya, masa-masa itu tidak akan pernah bisa tergantikan. Kamu adalah
istriku tercinta, bidadari hatiku. Selamat jalan belahan jiwaku... Bawalah
cintaku, hatiku, dan separuh jiwaku pergi bersamamu....”
♥♥♥♥♥♥
Tidak ada komentar:
Posting Komentar