12 November 2012

MY BEAUTIFUL LIFE


Naura divonis mengidap penyakit Lupus saat dia masih kuliah di fakultas ekonomi jurusan akuntansi semester enam. Pengobatan langsung dilakukan oleh Naura karena Lupus adalah termasuk penyakit mematikan yang setara dengan kanker. Namun pengobatan yang dilakukan oleh Naura tidak bisa menyembuhkan, karena Lupus termasuk dalam golongan penyakit yang belum ditemukan cara pengobatannya agar bisa sembuh total.
Saat ini Naura sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai accounting. Dia menjalani hari-harinya dengan cara yang sangat normal seperti orang sehat pada umumnya. Penyakit yang bersarang di dalam tubuhnya, sama sekali tidak membuatnya menjadi gadis yang lemah dan manja.
Ketika Lupus sedang aktif di dalam tubuhnya, seluruh badannya akan terasa pegal, lemah, kelelahan yang berlebihan, dan muncul ruam merah di kedua pipi dan hidungmya. Maka dia memilih untuk beristirahat agar tidak semakin tersiksa. Sebagai Odapus (orang hidup dengan Lupus) Naura harus menghindari beberapa hal, seperti terkena sinar matahari langsung, mengurangi beban kerja yang berlebihan, menghindari pemakaian obat tertentu, dan stres. Karena jika semua itu dilanggar, akan dapat membangunkan Lupus yang tertidur dalam tubuhnya.

♥♥♥♥♥♥



Hampir delapan tahun Naura menjalin hubungan dengan Eshan, kakak kelasnya saat SMU dulu. Saat Naura resmi divonis mengidap penyakit Lupus, dia langsung menceritakannya kepada Eshan. Mendengar hal itu Eshan syok, dia sama sekali tidak siap mengetahui wanita yang dicintainya terkena penyakit yang mematikan. Menyadari kondisinya, Naura menyerahkan nasib cintanya kepada Eshan. Dia tidak ingin memaksa Eshan untuk terus bersamanya jika memang Eshan tidak mau, dia tidak ingin penyakitnya dijadikan sebagai senjata untuk menahan Eshan agar tetap tinggal di sisinya.
Setelah dua minggu berpikir, Eshan memutuskan untuk tetap melanjutkan hubungannya dengan Naura. Berbagai konsekuensi dan resiko yang sudah disampaikan oleh Naura tentang penyakitnya, tidak membuat Eshan merubah keputusannya. Eshan mantab untuk terus bersama Naura dan tidak memutuskan hubungan mereka. Naura sangat bahagia dengan keputusan Eshan, dia bersyukur Eshan bisa menerima kondisinya yang tidak sehat.
Saat ulang tahunnya yang ke dua puluh lima, Naura dilamar oleh Eshan. Dengan makan malam romantis di sebuah restoran, Eshan menyatakan keinginannya untuk menikah dengan Naura. Tanpa berpikir lama, Naura langsung menerimanya. Sebuah cincin disematkan oleh Eshan di jari manis kiri Naura. Seketika itu juga hati Naura berbunga-bunga karena dia akan menikah dan memiliki kebahagiaan seperti orang lain yang hidup normal.

♥♥♥♥♥♥


Eshan berjanji akan segara membawa orang tua dan keluarganya untuk melamar Naura secara resmi. Namun hingga tingga bulan lamanya, Eshan belum juga datang bersama keluarganya untuk melamar Naura. Naura pernah bertanya dua kali, tapi Eshan selalu menjawab waktunya belum tepat dan memintanya untuk bersabar.
Hari Jum’at malam, Eshan datang ke rumah Naura. Wajahnya terlihat suram dan layu, seolah menyimpan kesedihan yang besar.
“Kamu kenapa, Shan?”
Eshan menatap sedih kepada Naura. “Sayang....aku harus mengatakan sesuatu yang tidak baik sama kamu.”
Naura mengernyitkan dahi. Perasaannya mendadak jadi tidak enak. “Sesuatu yang tidak baik? Apa?”
“Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Kita tidak bisa menikah.” jawab Eshan pelan dan terdengar sangat berhati-hati.
Naura terkejut bukan main. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga. Tubuhnya yang langsung terdiam mematung. Matanya sama sekali tidak berkedip menatap Eshan.
Eshan dengan cepat memegang kedua tangan Naura yang membeku. “Naura maafkan aku. Maafkan aku, sayang.. Aku tau ini pasti membuat kamu syok. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Ini sama sekali bukan kemauan ku, tapi aku tidak berdaya untuk menolaknya. Semua ini salahku, aku tidak pernah jujur pada orang tuaku tentang keadaan kamu. Aku tidak bercerita pada mereka setelah kamu memberi tau tentang penyakitmu padaku. Aku sengaja menutupinya dari mereka. Selama ini mereka merestui hubungan kita karena mereka mengira kamu gadis baik dan cerdas yang badannya sehat. Tapi tiga hari setelah aku melamar kamu, aku akhirnya menceritakan semua tentang kondisimu kepada mereka. Orang tuaku terutama papa ku tidak setuju aku menikah dengan kamu. Aku anak laki-laki satu-satunya di keluargaku, ketiga adikku perempuan. Orang tuaku dan keluargaku menaruh harapan yang besar padaku. Mereka ingin aku memiliki istri yang sehat dan bisa memberikan keturunan. Aku sudah berusaha untuk membujuk dan melunakkan hati kedua orang tuaku, tapi usahaku selama tiga bulan ini tetap tidak berhasil. Orang tuaku tetap tidak memberikan izin dan restu. Mereka tetap memintaku untuk mengurungkan niat menikah dengan kamu. Maafkan aku, Naura...” ucap Eshan penuh penyesalan dan rasa bersalah. Kedua matanya berkaca-kaca.
Pedih sekali hati Naura bagai tertusuk berkali-kali. Sangat sakit mendengar penolakan dari keluarga kekasihnya yang selama ini telah menerimanya dengan baik. Penyakitnya telah menghancurkan segala kebahagiaan dan impian yang selama ini sudah dirajutnya. Harapan untuk hidup bersama dengan orang yang sangat dicintainya mendadak musnah. Segala rencana yang sudah disusunnya dengam sempurna, punah dalam sekejap.
Naura tidak mampu menahan air matanya yang jatuh. Butiran bening menetes di kedua matanya dan terus menetes. Dia melepaskan kedua tangannya dari genggaman Eshan dan menghapus air matanya. Dalam hati dia berusaha untuk menguatkan diri walaupun hatinya perih luar biasa.
Naura menghela nafas dan mencoba menahan air matanya agar tidak terus terjatuh. “Aku bisa memahami keputusan orang tuamu, Eshan. Aku bisa mengerti sikap mereka. Sangat masuk akal jika mereka melarang satu-satunya anak laki-laki mereka menikah dengan perempuan sakit seperti aku. Itu sangat wajar, setiap orang tua pasti akan seperti itu. Kamu adalah putra mahkota, berjuta harapan dari orang tuamu telah digantungkan padamu. Kamu tidak boleh mengecewakan mereka. Selama ini keluargamu sangat baik padaku, orang tuamu perhatian padaku, aku tidak mau menyakiti mereka.” ucapnya dengan sangat tegar.
Eshan semakin merasa sedih. Dia semakin merasa bersalah pada Naura karena tidak jujur sejak awal tentang penolakan orang tuanya. “Maafkan aku, Naura.” ucapnya sekali lagi.
Naura melepaskan cincin di jari manisnya tapi Eshan buru-buru mencegahnya. “Kenapa, Eshan?”
“Jangan kamu kembalikan cincin itu. Aku mohon simpanlah sebagai kenangan dariku, bahwa aku pernah ada di hatimu dan sangat mencintaimu.”
Naura ragu, namun dia memakainya kembali.

♥♥♥♥♥♥


Perpisahannya dengan Eshan membuat Naura sangat patah hati. Kepedihan terus menyelimuti hatinya, semangat dalam dirinya menghilang, dan keceriaan yang selama ini ada telah meredup. Kondisinya yang seperti itu memicu penyakitnya semakin berkuasa dalam tubuhnya. Dokter sudah menasihatinya berkali-kali untuk menjaga kesehatan dan kestabilan psikisnya agar tidak stres, tertekan, dan kelelahan namun Naura seperti mengabaikannya. Dia terus saja dikalahkan oleh rasa sakit di hatinya. Dia memilih untuk menyibukkan diri dengan bekerja hingga lupa menjaga kondisi badannya.
Orang tua dan keluarga Naura selalu berusaha untuk membuat Naura melupakan sakit hatinya. Mereka juga berusaha mencegah Naura untuk tidak bekerja terlalu keras. Mereka tidak ingin kondisi Naura yang terus menurun semakin parah. Tapi ternyata itu tidak mudah, Naura terlalu patah hati dan putus asa. Cintanya yang besar untuk Eshan, membuatnya tidak bisa begitu saja melupakan Eshan. Cincin pemberian Eshan bahkan masih dipakainya sebagai hiasan kalung. Naura sengaja membiarkan dirinya semakin terpuruk dalam kesedihan dan tenggelam dalam kesibukkan kerja yang membuat tubuhnya semakin melemah.
Delapan bulan kemudian, ada seorang karyawan baru yang dimutasi di kantor Naura. Umurnya 30 tahun, lulusan S2, prestasi kerjanya sangat bagus, single, dan kepribadiannya baik. Dia menjabat sebagai manajer, atasan Naura yang baru menggantikan manajer lama yang mengundurkan diri. Sejak pertama bekerja, Adnan sudah terkesima dengan keanggunan Naura. Kecerdasan dan keuletan Naura dalam bekerja membuatnya kagum dan menaruh respect.
Perlahan namun pasti, Adnan berusaha mendekati Naura. Dia mengumpulkan informasi tentang Naura secara diam-diam dari para karyawan yang ada di kantor. Termasuk penyakit Lupus yang diderita Naura tidak luput dari pencarian informasi yang dilakukannya selama dua bulan. Di mata Adnan, Naura adalah pribadi yang unik dan mengagumkan. Dia sangat terpesona dengan sikap rendah hati, keramahan, dan kebaikan Naura kepada semua orang. Tidak heran jika Naura sangat disukai di kantornya.

♥♥♥♥♥♥


Setelah satu setengah tahun berpisah dengan Eshan, Naura mulai membuka diri pada Adnan. Sikap Adnan yang sangat baik, sabar, dewasa, dan menerima dia apa adanya membuat hatinya mulai luluh. Namun sikapnya yang mulai terbuka pada Adnan tidak kemudian membuatnya menerima Adnan begitu saja. Naura tidak mau jika patah hati lagi untuk kedua kalinya, dia belum siap untuk hancur lagi.
Adnan tau jika Naura belum bisa menerima dirinya karena luka yang ada di hatinya masih belum sembuh, namun dia tidak mau menyerah dengan mudah. Dia tau Naura sangat patah hati karena putus dan gagal menikah dengan pacarnya. Dengan penuh keyakinan, Adnan terus berusaha untuk mencairkan kebekuan hati Naura. Dia tetap sabar menunggu sampai nanti dia berhasil mendapatkan hati dan cinta Naura.
Untuk kelima kalinya dalam tiga bulan, Naura berusaha meyakinkan Adnan bahwa dirinya bukanlah wanita yang tepat untuknya.
“Aku sakit, Mas.. Kamu bisa mencari wanita lain yang sehat. Kamu orang yang sangat baik, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku.”
“Naura, wanita seperti apa yang pantas untuk aku itu aku sendiri yang menentukannya. Bukan orang lain. Karena kepantasan itu aku sendiri yang tau. Bagiku, kamulah wanita yang sangat pantas untukku.”
“Tapi aku sakit dan kamu tau itu.”
“Aku tau kamu sakit Lupus dan kondisimu sekarang terus menurun.”
“Aku tidak mau dikasihani, Mas..”
“Aku tidak mengasihani kamu. Aku mencintai kamu. Itu berbeda dengan rasa kasihan, Naura!” Adnan meyakinkan.
“Apa kamu yakin bisa menerima kondisiku? Penyakitku?”
“Apa selama ini aku pernah keberatan? Aku pernah komplain ke kamu?”
“Tapi bagaimana dengan keluarga kamu, Mas? Mereka belum tentu bisa menerima keadaanku.”
“Keluargaku menyerahkan segalanya padaku. Orang tuaku dan kedua kakakku memberi kebebasan padaku untuk mengambil keputusan apapun dalam hidupku, selama keputusan itu terbaik untukku. Aku sudah menceritakan kondisi kamu yang sebenarnya pada mereka, Alhamdulillah mereka bisa mengerti dan menerima.”
Naura terbengong, dia sama sekali tidak mengira keluarga Adnan bisa menerima keadaannya. Sikap yang sangat bertolak belakang dengan keluarga Eshan. “Kamu yakin keluargamu bisa menerima penyakitku, Mas?” tanyanya memastikan.
Adnan mengangguk dengan mantab. “Iya. Kalau kamu ingin lebih yakin, aku bisa mengajakmu bertemu dengan keluargaku. Kamu bisa bertanya langsung pada mereka.”
Naura tersenyum sedikit. Ada kelegaan dan kegembiaraan dalam hatinya. Tanpa disadarinya, sebenarnya telah ada perasaan cinta untuk Adnan belakangan ini. Namun perasaan itu baru tumbuh 30% di dalam hatinya.

♥♥♥♥♥♥


Pengobatan terus dijalani oleh Naura. Dia tidak pernah bisa lepas dari obat-obatan yang diberikan oleh dokter seumur hidupnya. Efek dari penyakitnya dan pengobatan yang terus dijalani membuat rambut Naura menjadi rontok, trombositnya rendah, badannya sering terasa lemah, dan penglihatannya menurun.
Cinta Adnan untuk Naura sangat besar, dengan penuh keikhlasan dia ikut ambil bagian mengurusi Naura. Dia sering menemani Naura ke dokter, mendampinginya saat Lupusnya kambuh, dan selalu menyemangatinya ketika Naura merasa jenuh bergantung pada obat-obatan.
Kondisi Naura yang tidak stabil dan penglihatannya yang terus menurun, memaksanya mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaannya. Tubuhnya sudah tidak bisa lagi diajak beraktivitas dengan baik, Lupus yang belakangan ini sering aktif membuatnya semakin lemah dan tak berdaya.
Naura sedang tiduran di kamarnya, wajahnya sangat pucat. Ruam merah di kedua pipi dan hidungnya membentuk seperti kupu-kupu. Di seluruh kulit tubuhnya juga muncul ruam merah yang menonjol dan bersisik. Tubuhnya lemah karena antibodinya menyerang langsung jaringan sel tubuh dan menghancurkan sel-sel darah merah yang mengakibatkan dia menjadi anemia.
“Lupy, kenapa kamu terus menyerangku? Bukankah kita ini ‘sahabat’ karena kamu ada dalam tubuhku? Bekerjasamalah denganku, Lupy.. Jangan membuatku semakin lemah begini. Kasihan orang-orang di dekatku, mereka ikut repot karena kita berdua. Kita tidak boleh menyusahkan mereka, Lupy.. Mereka sangat menyayangiku dan sudah sangat baik padaku. Tidurlah dengan tenang dalam tubuhku, Lupy.. Jangan terbangun dan terus menyerangku, kita kan bukan musuh tapi sebuah kesatuan. Aku sudah rela berbagi tempat denganmu di dalam tubuhku, aku mohon bersikaplah baik padaku.” ucap Naura sambil mengelus ruam merah di lengannya, seolah berbicara dengan penyakitnya.
  
♥♥♥♥♥♥


Lima bulan berlalu, kondisi Naura semakin memburuk. Organ-organ tubuhnya sudah tidak bisa berfungsi dengan baik. Dia bahkan sudah kehilangan 60% penglihatannya. Untuk pergi kemana-mana dan melakukan apa-apa, Naura banyak dibantu orang lain. Dokter mengatakan Naura mengidap Lupus jenis Systemic Lupus Erythematosus yang menyerang organ tubuh tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf.
Dengan berat hati, Naura harus memakai kursi roda jika ingin pergi agak jauh dan waktunya lumayan lama. Bukan karena dia mendadak lumpuh, tapi karena kondisi tubuhnya yang semakin melemah membuatnya sering merasa kelelahan yang luar biasa. Melakukan aktivitas sebentar atau jalan beberapa saat, dia sudah merasa badannya lemas dan sangat lelah.
Kondisi Naura yang seperti itu tidak membuat Adnan mundur namun sebaliknya,  Adnan malah mengajak Naura untuk menikah. Jelas saja keinginan Adnan itu langsung ditolak oleh Naura, bagi Naura sangat tidak mungkin dia membiarkan Adnan menikahi wanita yang sakit parah seperti dirinya. Adnan berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dan sehat untuk mendampinginya sebagai istri.
Adnan tidak mau menerima penolakan Naura, dia terlalu mencintai Naura. Keputusannya untuk menikah dengan Naura sudah bulat. Dia pun memberanikan diri untuk bertemu dengan orang tua dan kakak Naura. Dengan penuh keyakinan, Adnan menyampaikan keinginannya untuk menikahi Naura. Apapun konsekuensi dan resikonya, Adnan siap menanggungnya. Pada awalnya orang tua Naura tidak setuju, mereka sadar diri dengan kondisi Naura yang sakit parah. Mereka tidak ingin menyusahkan Adnan dan membuatnya mengorbankan diri. Namun kegigihan dan kemantaban Adnan serta restu dari orang tua yang sudah didapatkannya, akhirnya mampu meluluhkan hati orang tua Naura untuk memberikan izin menikah dengan Naura.
   
♥♥♥♥♥♥


Naura dan Adnan akhirnya menikah dengan acara yang sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga, kerabat dan teman-teman dekat seperti keinginan Naura. Setelah menikah, mereka tinggal di rumah baru yang dibeli Adnan sebelum melamar Naura. Karena kondisi Naura yang sakit, Adnan sudah menyiapkan dua pembantu untuk mengurus rumah dan membantu Naura saat Adnan sedang tidak ada di rumah.
Sejak resmi menikah, Adnan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bersama Naura. Pulang kerja, dia memilih untuk langsung pulang. Terkadang dia mengajak Naura pergi jalan-jalan agar tidak bosan di rumah. Dengan sangat sabar Adnan menuntun Naura berjalan saat kursi rodanya tidak dipakai, menyuapi Naura agar makannya lebih berselera, membantu Naura berdandan dan berpakaian agar terlihat lebih segar, dan banyak lagi hal lainnya. Adnan melakukan semuanya dengan tulus dan ikhlas untuk istri yang sangat dicintainya.
Adnan mengamati Naura yang tidur di sampingnya. Naura sangat pucat dengan ruam merah di wajahnya. Rambutnya yang dulu panjang dan lebat, sekarang sudah menepis dan dipotong pendek. Adnan membelai wajah Naura dengan lembut. Tatapannya nanar menyimpan kepedihan.
“Andaikan kita bisa bertukar tempat, biarkan aku yang menggantikan posisimu mengidap penyakit Lupus. Biar aku yang menanggung rasa sakitnya. Aku benar-benar tidak tega melihatmu seperti ini. Tidak pernah sekalipun aku berhenti berdo’a agar ada mu’jizat yang dapat mengangkat penyakitmu dari tubuhmu. Aku ingin sekali melihatmu sembuh, sayang..” ucap Adnan lirih.
Naura menggerakkan kepalanya. Matanya tetap terpejam.
“Ya Allah....berikanlah keajaiban untuk istri hamba. Berikan mu’jizat kesembuhan untuk Naura. Engkau Maha Segalanya, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Mu. Hamba percaya dengan Kebesaran-Mu, Ya Rabb..” do’a Adnan penuh harap.
Naura menggerakkan lagi kepalanya lalu membuka kedua matanya perlahan. Dia melihat Adnan sedang menatapnya. Air mata mengalir dari mata Adnan. Tangan kanan Adnan menyentuh pipinya.
Naura berkedip, dia sedikit menyipitkan matanya. Dia fokus memperjelas pandangan matanya. Dia menatap Adnan dengan bingung. Dengan penglihatan yang terbatas, dia melihat Adnan masih terjaga. “Mas Adnan kok belum tidur?” tanyanya penasaran.
Adnan tiba-tiba sadar kalau matanya basah. Cepat-cepat dia menghapus air matanya dan tersenyum. Dia tidak ingin Naura melihatnya menangis. “Belum bisa tidur, sayang.. Kamu kenapa terbangun? Apa aku membangunkan kamu?”
Naura menggeleng pelan. “Engga kok, Mas.. Aku memang terbangun sendiri.”
“Kenapa, Naura? Apa ada yang sakit?” tanya Adnan khawatir.
“Engga, Mas.. Aku ngga pa-pa.”
Adnan tersenyum. “Kalau kamu ada apa-apa, jangan ragu bilang sama aku. Kalau ada yang sakit, langsung beri tau ya..”
Naura mengangguk. “Iya, Mas..” jawabnya. “Mas, aku bersyukur sekali sudah diberikan anugerah kebahagiaan yang sangat indah. Walaupun aku diberi sakit seperti ini, tapi Allah juga memberiku kebahagiaan yang tak ternilai. Aku sudah diberi kesempatan untuk merasakan indahnya menikah dan memiliki keluarga.”
Adnan tersenyum. “Allah itu Maha Adil, sayang..”
Naura ikut tersenyum. “Iya. Terima kasih ya, Mas.. Selama ini kamu sudah sangat baik sama aku. Bisa menerima aku apa adanya dengan ikhlas.”
Adnan membelai kepala Naura dengan penuh rasa sayang. “Aku sangat mencintai kamu. Apapun akan aku lakukan untuk kamu, sayang..”
“Tapi kamu mencintai tubuh yang salah, Mas..”
“Tapi aku mencintai hati yang tepat. Hati yang penuh dengan kasih sayang, kelembutan, dan kedamaian. Hatimu adalah rumah terindahku. Di sanalah aku tinggal, rumah yang penuh dengan kehangatan dan kebahagiaan.”
“Bagaimana jika nanti aku benar-benar buta dan tubuhku semakin tak berdaya?”
“Aku akan menggenggam tanganmu erat-erat. Aku akan menuntunmu dan menjadi penunjuk jalanmu. Jika tubuhmu nanti tak lagi memiliki daya, aku akan menggendongmu kemanapun kamu mau pergi. Selamanya, aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Karena hatimu adalah rumahku, maka di sisimulah aku akan tinggal.”
“Lalu......bagaimana jika aku mati nanti? Aku merasa hidupku tidak akan bisa bertahan lama dengan kondisiku yang seperti ini.”
“Jika nanti Allah memanggilmu, maka tutuplah kedua matamu dalam pelukanku. Saat itu aku akan mengantarkan kepergianmu dengan cinta dan do’a.”
Hati Naura sangat tersentuh mendengar ucapan Adnan. Dia terharu bercampur bahagia karena begitu dicintai oleh Adnan. Tangannya menyentuh wajah Adnan, matanya meneteskan bulir bening. “Aku juga sangat mencintaimu, Mas..”
Adnan mencium kening Naura lalu memeluknya erat.”

♥♥♥♥♥♥


Setelah menikah dengan Adnan, Naura menemukan kembali semangat hidupnya. Dia mulai membangun kembali harapannya yang dulu pernah berantakan. Namun sangat disayangkan, penyakitnya sudah terlanjur menyebar di seluruh tubuhnya. Kondisinya tidak bisa banyak berubah. Antibodi yang terbentuk dalam tubuhnya terus muncul secara berlebihan karena penyakit Lupusnya, sehingga mengakibatkan antibodi itu menyerang sel-sel jaringan organ tubuhnya yang sehat. Kelainan itu disebut dengan autoimunitas. Akibat kelainan itu organ-organ tubuhnya rusak dan fungsinya semakin menurun.
Naura tidak mau menyerah dengan penyakitnya. Dia terus berusaha untuk bisa kuat mengahadapi Lupus yang tak berhenti melemahkan tubuhnya. Berbagai macam obat yang diberikan oleh dokter, tidak pernah lupa diminumnya. Segala hal yang bisa membuat Lupus terbangun dan meraja lela di dalam tubuhnya, dihindarinya dengan semaksimal mungkin. Naura menghindari stres, kelelahan, sinar matahari secara langsung, dan menjaga makanan yang dimakannya agar kondisinya bisa lebih stabil.
Usaha yang dilakukan Naura tidak bisa membawa banyak perubahan. Setelah beberapa bulan, penglihatannya semakin menurun. Dalam situasi yang minim cahaya, pandangannya sudah gelap. Dia harus melihat segala sesuatu dari jarak yang sangat dekat, itupun tidak bisa maksimal. Organ tubuhnya yang lain juga sudah semakin terganggu fungsinya. Naura harus banyak beristirahat dan tidak boleh banyak beraktivitas maupun berpikir keras.
Terkadang Naura merasa ingin menyerah pada penyakitnya, jika Lupus dalam tubuhnya mulai aktif dan membuatnya sulit menghadapinya. Namun cintanya pada Adnan dan pengorbanan Adnan untuknya selama ini membuatnya terus menguatkan diri untuk bertahan. Rasa sakit dalam tubuhnya terus dilawannya seiring kesetiaan Adnan yang tidak pernah lelah untuk menyemangatinya.

♥♥♥♥♥♥


Adnan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambilkan obat-obatan Naura. Dia mencari-cari ke dalam laci meja dan tidak sengaja menemukan sebuah buku. Dia mengambilnya dan membukanya. Buku itu ternyata diary milik Naura. Adnan ragu untuk membacanya, namun hati kecilnya tiba-tiba merasa penasaran dan ingin tau isinya. Dia duduk di tepi kasur dan memulai membacanya.
Adnan membaca cepat semua tulisan yang tertuang dalam diary coklat bergambar piano itu. Semakin ke belakang, tulisan Naura semakin tidak rapi karena disebabkan penglihatannya yang terus menurun. Di halaman belakang, hanya ada dua baris kalimat yang terpotong dengan tulisan berantakan. Adnan membaca tanggal yang ada di kanan atas, sudah satu bulan yang lalu. Itu terakhir kali Naura menulis di diarynya, karena di halaman berikut-berikutnya kosong. Dari kalimat yang dibaca oleh Adnan, dia tau Naura tidak sanggup lagi melanjutkan tulisannya. Tulisannya sudah sangat berantakan, naik turun tidak karuan. Mungkin saat itu penglihatan Naura sudah sangat memburuk sehingga dia kesulitan melihat tulisannya sendiri.
Adnan membuka lagi lembar sebelum tulisan terakhir Naura. Dia membaca kembali dengan perlahan-lahan. Tulisan itu tertanggal empat bulan setelah mereka menikah. Tulisannya yang tidak rapi lagi sengaja ditulis besar-besar agar bisa dilihat dengan lebih mudah oleh Naura, mengingat kemampuan melihatnya yang sudah menurun.
Aku sangat bahagia dengan pernikahanku. Menikah dengan mas Adnan adalah sebuah anugerah terindah yang tak ternilai dalam hidupku. Ketika aku diberi cobaan yang sangat besar oleh Tuhanku, mengidap penyakit Lupus yang kemudian membuatku kehilangan kekasihku yang sangat aku cintai saat itu. Hingga membuatku tenggelam ke dasar lautan kepedihan, membuatku terpuruk di sana untuk waktu yang lama. Keputusasaanku yang panjang telah membebaskan Lupus berkuasa dalam tubuhku hingga dia berhasil menghancurkan organ-organ tubuhku yang sehat.
 Namun kemudian Tuhan menghadirkan mas Adnan dalam hidupku. Ketulusannya mencintaiku dan menerimaku apa adanya adalah sebuah pengorbanan besar. Keikhlasannya untuk menikah denganku dan menjalani hidup bersamaku telah berhasil mengambil seluruh sisa hatiku untuk mencintai dia sepenuhnya.
Sungguh luar biasa rencana Tuhan. Sama sekali tidak ku sangka sebelumnya. Dalam hidupku yang nelangsa ini, ternyata masih ada kebahagiaan lain yang disiapkan oleh Tuhan untukku. Di sisa waktuku, aku diberi sebuah ketulusan cinta yang tak bersyarat, kebahagiaan yang luar biasa indah, dan kesempatan merasakan manisnya sebuah pernikahan. Sama sekali tidak berbeda dengan mereka yang memiliki kehidupan normal dengan tubuh yang sehat.
Kata orang, kesempurnaan itu tidak ada di dunia ini. Tapi bagiku, kesempurnaan itu ada. Apa yang aku miliki sekarang, bagiku sudah sempurna. Memiliki semuanya yang sangat mencintaiku dan aku cintai, keluarga yang penuh kehangatan, dan pernikahan yang sangat bahagia. Mas Adnan telah mengajariku melihat kehidupan ini dengan mata hati, rasa syukur, dan keikhlasan. Sehingga aku mampu melihat hidupku dengan sempurna.
Terima kasih suamiku tercinta, mas Adnan.....
Air mata Adnan menetes dari kedua matanya. Dia menutup diary Naura dan terdiam.

♥♥♥♥♥♥


Empat hari setelah merayakan satu tahun perkawinan, Naura masuk rumah sakit. Kondisinya memburuk drastis sehingga harus mendapat perawatan intensif dari dokter. Adnan dengan setia menemani Naura selama 24 jam. Dia bahkan sengaja mengambil cuti karena tidak ingin meninggalkan Naura.
Adnan tidak berhenti berdo’a untuk Naura. Dia selalu duduk di samping Naura sambil mengaji, berdzikir, dan berdo’a secara bergantian. Naura yang mulai hilang kesadaran sudah tidak bisa lagi mengetahui segala hal yang ada di sekitarnya. Dia hanya terbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam dan peralatan medis yang menempel di tubuhnya.
Segala usaha sudah dilakukan oleh dokter yang menangani Naura. Namun Tuhan berkehendak lain. Setelah sepuluh hari dirawat di rumah sakit, Naura menghembuskan nafas terakhirnya pukul sebelas malam lebih sepuluh menit. Perjuangan keras yang dilakukannya selama ini harus berakhir. Dia akhirnya menyerah pada Lupus yang sudah menjadi tuan dalam tubuhnya dan berkuasa penuh untuk mengalahkannya.
Adnan yang sudah menyiapkan diri sejak awal dia memutuskan untuk menikahi Naura, terlihat sangat tegar menerima kematian Naura. Dia memeluk erat tubuh Naura dan mencium keningnya beberapa kali. Dia memenuhi janjinya untuk memeluk Naura saat Naura pergi untuk selama-lamanya. Untaian do’a telah diucapkannya untuk mengiringi keprgian Naura. Dengan suara lirih, dia membisikkan kalimat perpisahan ke telingan Naura.
“Selamat jalan kekasih sejatiku. Pergilah dengan tenang, sayang.. Aku sudah melepasmu dengan ikhlas. Bawalah cintaku dan simpanlah dalam hatimu. Jaga baik-baik, suatu saat nanti aku akan pulang ke sana dan tinggal bersamamu lagi.”
Keesokan harinya, Naura dimakamkan. Banyak pelayat yang datang untuk mengantarkan kepergian Naura. Keluarga, kerabat, sahabat, teman, rekan kerja, dan tetangga berkumpul untuk mendo’akan dan melepaskan Naura menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Saat semua pelayat pulang, Adnan masih tinggal di pemakaman. Dia bersimpuh di samping pusara Naura yang bertabur banyak bunga.
Adnan tidak sanggup lagi menahan air matanya. Kesedihan yang luar bisa menyelimuti perasaannya. Hatinya sangat pedih dan terluka kehilangan orang yang sangat dicintainya. Tangannya berkali-kali mengelus papan kayu bertuliskan nama Naura dan menyentuh timbunan tanah yang tertutup dengan taburan bunga. Dia berdo’a lalu mengucapkan beberapa kalimat untuk Naura.
“Terima kasih, sayang.. Kamu sudah mencintaiku sepenuh hatimu. Terima kasih untuk kebahagiaan yang kamu rasakan bersamaku. Kamu adalah bidadariku, anugerah terindah dalam hidupku. Kamu telah mengajariku tentang arti perjuangan dan sikap berdamai dengan kenyataan. Kelembutanmu, sifatmu yang penyayang dan tidak pernah marah, serta ketegaranmu akan ku tanamkan dalam diriku agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Walaupun kebersamaan kita tidak lama, namun setiap detik waktu bersamamu adalah saat terindah dalam hidupku yang paling membahagiakan. Selamanya, masa-masa itu tidak akan pernah bisa tergantikan. Kamu adalah istriku tercinta, bidadari hatiku. Selamat jalan belahan jiwaku... Bawalah cintaku, hatiku, dan separuh jiwaku pergi bersamamu....”

♥♥♥♥♥♥

Tidak ada komentar:

Posting Komentar