Tampilkan postingan dengan label Keyakinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keyakinan. Tampilkan semua postingan

5 Desember 2012

SELEPAS SHOLAT ASHAR



Seorang gadis duduk sendirian di warung bakso yang ada di komplek rumahnya. Dia meminum es jeruk sambil sesekali melihat orang-orang yang sedang makan bakso di dekatnya. Dia terlihat cantik mengenakan celana jins, baju putih, dan sepatu terepes. Kepalanya dibalut jilbab yang ditata cantik. Dia memang seorang muslimah yang modis, anggun, dan cantik.
Wajahnya langsung sumringah saat melihat seorang pria tinggi dan tampan berjalan ke arah warung bakso. Pria bermata agak sipit itu berpakaian rapi dengan celana jins, baju putih, dan sepatu gaul. Dia tersenyum dan melambaikan tangan pada gadis yang duduk menunggunya.
“Hai, Rayya.. Assalamu’alaikum.” sapa pria yang rambutnya ditata khas anak muda.
“Hai, Fahri.. Wa’alaikumsalam.” balas Rayya lalu tersenyum.
“Maaf ya aku terlambat, Rayya.. Tadi sehabis sholat Ashar, aku mau langsung ke sini. Tapi Mama minta dibeliin sesuatu ke mini market. Soalnya bi Munah lagi repot di dapur.”
“Ngga apa-apa kok, aku juga belum lama di sini. Tadi selesai sholat Ashar, aku juga nungguin Aliya pulang dulu. Soalnya Papa sama Mama baru pergi, mbak Sumi masih pulang kampung.”
Fahri melihat jam tangannya. Pukul lima lebih sepuluh menit. “Masih ada waktu untuk makan bakso sebelum adzan Maghrib. Kita makan dulu yukk...”
“Iya. Yuukk kita pesan sama bang Amir.”
Rayya dan Fahri adalah tetangga di komplek perumahan Griya Asri, rumah mereka hanya berbeda blok. Sudah dua tahun ini mereka pacaran. Tapi seperti itulah gaya pacaran mereka, tidak seperti anak muda pada umumnya. Mereka menjalin hubungan dengan sangat menjaga diri masing-masing.
Selama mereka pacaran tidak pernah sekalipun mereka melakukan hal-hal yang melanggar agama. Mereka adalah anak muda yang sholeh dan sholeha. Walaupun mereka anak muda yang gaul dan selalu mengikuti perkembangan zaman, tapi mereka rajin beribadah dan kelakuannya santun.
Sudah kesekian kalinya, Rayya dan Fahri membuat janji untuk bertemu selepas sholat Ashar seperti ini. Biasanya mereka akan makan bakso atau siomay atau mie ayam di warung yang ada di komplek rumah mereka. Setelah itu mereka akan mengobrol panjang lebar sambil menunggu adzan Maghrib. Jika Maghrib sudah datang, mereka akan sholat bersama-sama di masjid komplek rumah.
Adzan Maghrib berkumandang dengan indahnya. Rayya dan Fahri menyudahi obrolan mereka. Rayya berdiri dari kursinya sambil menenteng tas kecil dan tas mukena. Fahri juga berdiri sambil memegang peci yang tadi dibawanya. Fahri membayar bakso dan minuman kepada bang Amir, lalu dia dan Rayya berpamitan kepada penjual bakso yang sudah akrab dengan mereka.
“Sekarang kita sholat berjamaah dulu ke masjid ya.. Besok-besok kita janjian lagi setelah sholat Ashar.” ajak Fahri.
“Iya. Masih ada hari esok untuk bertemu lagi.” ucap Rayya.
Dua sejoli itu berjalan beriringan menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat Maghrib bersama.

1 November 2012

PANGGIL AKU TANISHA



Tanisha dan Aylin adalah dua sahabat waria. Mereka tinggal di sebuah kontrakan sederhana. Meskipun waria, mereka tidak pernah berperilaku buruk dan merugikan. Sebaliknya, mereka sangat ramah dan baik sehingga disukai para tetangganya.
Tanisha sebenarnya berasal dari keluarga kaya raya. Papanya adalah seorang pengusaha sukses. Dia anak sulung dan memiliki dua adik perempuan. Nama aslinya adalah Altan Mahvin Dilara, sedangkan Tanisha adalah singkatan dari nama Mamanya Tasnim Sharliz. Saat remaja, kecenderungan Tanisha dalam perilaku seperti perempuan memang sudah terlihat. Dia lebih suka berteman dengan perempuan, perasaannya halus, dan hobinya membaca majalah fashion. Saat berada di LA, dia keluar dari kuliahnya dan pindah ke sekolah fashion desaigner. Keluarganya terutama Papanya syok berat saat Tanisha mengatakan ingin beroperasi transgender dan menjadi desainer di luar negeri setelah kembali ke Indonesia. Keinginannya itu ditentang keras oleh Papanya, namun Tanisha tidak menyerah. Dengan tabungan yang dimilikinya dan menjual mobilnya, dia terbang ke luar negeri untuk operasi. Saat kembali pulang, dia bertengkar hebat dengan Papanya yang berujung dengan diusirnya dia dari rumah dan dicabut semua fasilitas yang diberikan padanya.
Sudah tiga tahun ini Tanisha meninggalkan rumahnya. Dia mulai membangun impiannya menjadi seorang desainer dengan bekerja di sebuah butik. Pemiliknya bernama mbak Henna, adalah seorang desainer yang lumayan terkenal di Malang, orangnya sangat baik dan mau memberi kesempatan pada Tanisha untuk mengembangkan bakatnya dengan ilmu yang dimilikinya.

♥♥♥♥♥♥


27 Oktober 2012

IZINKAN AKU KEMBALI


Sejak kekasihnya meninggal delapan bulan yang lalu, Nayla seperti orang yang kehilangan harapan dan cahaya hidup. Dia tenggelam dalam kepedihan dan keputusasaan. Rasa perih di hatinya karena Rizky pergi untuk selama-lamanya, semakin dalam menyeretnya ke jurang keterpurukan.
“Nayla, sampai kapan kamu mau terus seperti ini?” tanya Misha, sahabat terdekat Nayla. Tangannya membelai kepala Nayla yang tiduran di kasurnya.
“Aku juga ngga tau, Sha..” jawab Nayla pelan.
“Sayang, sudah saatnya kamu harus bangkit. Kehilangan Rizky tidak berarti hidupmu berhenti. Rizky sudah tenang di sisi-Nya. Kamu harus melanjutkan hidupmu.”
“Aku ngga tau bagaimana caranya menjalani hidupku tanpa Rizky.”
“Aku tau Rizky itu bagian dari dirimu, tapi dia bukan seluruh hidupmu. Orang tua dan kakak-kakakmu di bawah, aku dan anak-anak, kita semua sangat sayang dan perduli sama kamu. Kita akan selalu ada untuk kamu, Nayla.. Lanjutkanlah hidupmu untuk kita, orang-orang yang selalu mencintaimu.”
“Aku tidak tau harus melangkah ke mana, segalanya sangat gelap. Bagaimana bisa aku melanjutkan hidupku?”
Misha memegang wajah Nayla dan menatapnya. “Pergilah kepada Tuhanmu, Nayla.. Selama ini kamu sudah jauh dari-Nya. Kamu jarang bersujud pada-Nya, sehingga kamu menjadi orang yang sangat rapuh. Memang benar lima tahun kamu bersama Rizky, harapan dan masa depan telah kamu gantungkan padanya. Tapi tidak seharusnya perpisahan ini membuatmu tenggelam sedemikian dalam ke jurang kepedihan, sampai kamu kehilangan semangat begini. Mendekatlah pada Allah, sayang.. DIA yang akan memberimu kekuatan dan menuntunmu keluar dari kegelapan dengan cahaya terang-Nya.”

♥♥♥♥♥♥