Tampilkan postingan dengan label Harapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harapan. Tampilkan semua postingan

14 Mei 2014

THE MIRACLE OF “SEDEKAH”


Saya sudah beberapa kali merasakan sendiri dahsyatnya sedekah. Subhanallah benar-benar amazing! Alhamdulillah sedari kecil saya sudah senang berbagi dengan orang lain. Semua itu saya pelajari dari orang tua saya yang gemar berbagi dan memberi kepada orang lain.
Selain dari sholat dan berpuasa, katanya sedekah adalah ibadah yang sangat bagus. Karena dengan sedekah kita bisa membantu dan meringankan beban orang lain. Tapi sebelum-sebelumnya, kalau memberi saya memang belum pernah dalam jumlah yang banyak. Karena masih sekolah, uang jajan yang pegang orang tua, dan belum bener-bener paham artinya sedekah. Jadi dulu belum pas untuk disebut sedekah kali ya? Lebih tepatnya memberi dan berbagi.
Tapi setelah kuliah, saya mulai belajar memahami makna dari sedekah. Walaupun jumlahnya belum terlalu besar, tapi saya mulai berlatih untuk sedekah. Sebagian dari uang saya, saya sisihkan untuk sedekah. Memang sih, saya belum sering sedekahnya. Saya masih sering tergoda memakai uang saya untuk beli ini itu, apa yang saya inginkan. Maklum namanya masih muda pasti pingin nonton, jalan-jalan, makan, belanja. Hehehe.....
Tapi setelah saya lulus S1 dan melanjutkan S2 sambil magang advokat, saya mulai berlatih untuk mentertibkan diri dalam bersedekah. Salah satu bukti nyata dari kekuatan sedekah yang sudah saya rasakan, adalah ketika saya sedang menyelesaikan tesis hingga lulus pendadaran. Setiap mengingat tentang kisah ini, saya merasa terharu karena teringat kembali dengan perjuangan panjang yang saya lewati untuk bisa lulus. Saya juga terkenang kembali, betapa Kebesaran Allah itu sangat nyata.

4 Februari 2014

MUNAJAT CINTA AINA



Begitu hening, hampir tidak ada suara di sekeliling. Suasana di dalam kamarnya sangat tenang. Hanya terdengar gerakan anggota tubuhnya yang sedang bersujud di sepertiga malam.

Usai mengucapkan salam, kedua tangannya menengadah dan bibirnya bersuara lirih. Khusyu' sekali ia menenggelamkan diri untuk menguntai do'a dan merangkai pinta kepada Sang Pencipta. Air matanya perlahan mengalir tanpa disadarinya.

"Ya Allah, waktu telah menyembuhkan luka di hatiku. Semua itu karena-MU. Terima kasih Engkau telah menunjukkan jalan terbaik untukku. Engkau telah menjagaku dan memberikan kebaikan untukku. Walaupun pahit rasanya, tapi aku yakin dengan jalan-MU. Berilah aku seorang imam yang baik untuk membimbingku di dunia dan membawaku ke surga. Akan ku berikan hidupku untuk mengabdi padanya agar aku dapat meraih ridho dari-MU."

Setelah melipat mukena dan mengembalikan ke tempatnya, ia duduk di atas kasur. Tangannya membuka laci meja dan mengambil diarynya. Ia membuka dan membaca lembar terakhir yang ditulisnya 9 bulan yang lalu.



Dear Diary..

Malam ini akan menjadi awal yang baru dalam hidupku. Pada akhirnya usai sudah. Seharusnya aku lakukan beberapa tahun yang lalu. Tidak mengapa aku harus melewati 8,5 tahun, jika perjalanan panjang ini menjadikanku lebih kuat dan dewasa. Tuhan telah menjadikan setiap tetes air mataku sebagai kekuatan dan segala lukaku sebagai keikhlasan. Aku harus melanjutkan hidupku. Aku yakin Tuhan akan mengganti seluruh pengorbananku dengan kebahagiaan yang indah suatu hari nanti.



Mei 2013

Aina



Ia menutup diarynya dan memasukkan kembali ke dalam laci. Ia menghela nafas panjang dan tersenyum.

"Terima kasih, Ya Allah. Aku mampu melewati masa-masa sulitku. Aku percaya pada-Mu, Engkau akan selalu menuntunku. Aku yakin dengan janji-MU, segalanya akan indah pada waktunya. Dengan do'a, aku akan sabar menunggu saat itu tiba."

Ia menarik selimut dan meredupkan lampu kamar. Masih ada waktu dua jam untuk melanjutkan tidur sebelum adzan Shubuh berkumandang.

27 Februari 2013

DARA

Dara duduk di sebuah sofa coklat yang empuk. Secangkir coklat panas telah tersaji di dekat tangan kanannya. Tangan kirinya memangku dagunya dengan wajah muram tanpa senyuman. Carissa, Risma, dan Elma yang duduk dihadapannya menatapnya dengan penuh rasa pemakluman. Mereka sudah mengerti apa yang sedang dialami oleh Dara.
“Kamu jangan sedih terus gini dong, Dara.. Kita-kita jadi ikutan sedih nih..”
“Aku sudah mencoba untuk cuek, Rissa.. Tapi ngga pernah bisa. Belakangan ini rasa ketidaknyamanan aku semakin kuat. Aku merasa sudah tidak bisa sepemahaman lagi dengan Ayla, Helsi, Terry, dan Mala.”
“Kita ngerti, sayang. Memang pribadi yang berbeda-beda itu tidak mudah untuk disatukan. Sedekat-dekatnya sahabat, pasti suatu saat akan menemukan hal-hal yang tidak sejalan. Itu yang harus kamu pahami.” ucap Elma.
“Selama ini aku terus berusaha untuk memahami. Aku selalu mencoba untuk mengalah dan menerima. Aku memilih untuk diam. Tapi mereka semakin menjadi. Sekarang mereka benar-benar sudah berubah, tidak sama lagi seperti dulu. Entah mengapa bisa begitu.”
“Bukan hanya mereka. Tanpa kamu sadari, kamu pun sebenarnya juga sudah berubah. Setiap orang pasti akan berubah, Dara.. Kondisi, lingkungan, status, pendidikan, pekerjaan, adalah beberapa penyebab seseorang menjadi berubah. Ada yang berubah menjadi lebih baik, ada juga yang menjadi ngga baik. Ada yang berubah lebih matang, ada juga yang menjadi labil. Ada yang berubah lebih maju, ada juga yang menjadi kemunduran. Semuanya tergantung masing-masing orangnya, mau pilih yang mana.” ucap Risma menanggapi.

29 Oktober 2012

SEMOGA





Dulu...
Daun ini pernah hijau
Daun ini pernah tumbuh
Daun ini pernah mewangi
Daun ini pernah berarti

27 Oktober 2012

ATAS NAMA CINTA

Fila sangat bahagia dengan hidupnya. Setelah tujuh tahun berpacaran, akhirnya dia menikah dengan Ghani, pria tampan yang lebih tua lima tahun darinya. Usai menikah, Fila dan Ghani memilih untuk menetap di Bandung walaupun keluarga mereka berada di Jakarta. Bandung memiliki makna sejarah untuk mereka. Di kota inilah mereka bertemu, saling jatuh cinta, kemudian berpacaran, dan akhirnya menikah.
Satu tahun menikah, kehidupan rumah tangga mereka sangat bahagia dan penuh cinta. Ghani sangat mencintai Fila. Sejak berpacaran hingga menikah, Ghani selalu berusaha membahagiakan Fila. Dia selalu memanjakan Fila dengan perhatian-perhatian kecil tapi bermakna, seperti memasak bubur untuk Fila saat Fila pulang dari rumah sakit dua tahun yang lalu. Dia juga sering meletakkan coklat di dalam tas Fila, karena dia tau Fila sering malas makan siang kalau sedang banyak kerjaan di kantor. Fila sendiri selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Ghani. Dia ingin mengabdikan hidupnya sebagai istri yang berbakti pada Ghani.
Di mata Fila, Ghani adalah pria yang sempurna. Ghani sangat dewasa, baik, sabar, bertanggung jawab, penuh perhatian, sangat perduli, dan selalu bisa membimbingnya. Dia sangat bersyukur, Tuhan sudah mempertemukan dan mempersatukan dia dengan Ghani. Fila yakin, bersama Ghani masa depan yang indah akan dia jelang. Dia siap mengarungi hidup dengan segala rintangan dan cobaan apapun, selama Ghani ada di sisinya. Fila mengakui, sebagian dalam dirinya mungkin lebih, sudah bergantung pada Ghani. Dia tidak bisa membayangkan kalau harus hidup tanpa Ghani nantinya. Fila selalu berdo’a, agar dia bisa menjalani hidup bersama Ghani hingga tua nanti dan berharap agar kelak kematian menjemput mereka bersama-sama. Dengan begitu dia tidak akan pernah merasakan hidup sendiri tanpa Ghani.

♥♥♥♥♥♥



26 Oktober 2012

RINDUKAN CINTAMU, PAPA

Ulang tahun ke-7
“Ya Allah, aku ingin mendapat kado pelukan Papa di ulang tahunku ini.”

Ulang tahun ke-12
“Ya Allah, aku tidak meminta kado apa-apa. Aku hanya ingin Papa memelukku.”

Ulang tahun ke-17
“Ya Allah, di usiaku yang beranjak remaja ini ingin sekali aku merasakan pelukan Papa.”

Ulang tahun ke-25
“Ya Allah, aku selalu mengucapkan do’a yang sama di setiap ulang tahunku. Aku ingin dipeluk oleh Papa.”

Ulang tahun ke-35
“Ya Allah, aku tidak akan pernah berhenti berdo’a dan berharap pada-Mu agar Papa memelukku.”

♥♥♥♥♥♥


Zahwa selalu memanjatkan do’a yang sama di setiap ulang tahunnya. Dia ingin sekali dipeluk oleh Papanya. Dia ingin merasakan kasih sayang dan cinta dari Papanya yang selama ini sangat sIbuk dengan pekerjaan. Sejak Zahwa dan kakaknya masih kecil Papanya jarang berada di rumah. Papanya sering ke luar kota bahkan luar negeri untuk urusan bisnis, sehingga tidak pernah punya waktu untuk keluarga. Zahwa dan Huda hanya dekat dengan Mamanya yang seorang Ibu rumah tangga. Bagi Zahwa dan Huda, Papanya seperti orang lain yang tidak akrab dengan mereka.
Zahwa sudah menikah dan memiliki dua orang anak kembar, Ghaza dan Sabia yang berumur 8 tahun. Sedangkan Huda yang lebih tua empat tahun dari Zahwa, sudah memiliki tiga anak dari istrinya yang cantik keturunan Indo-Jerman.

♥♥♥♥♥♥