10 Mei 2014

MY LIFE, MY STORY


Me and Family
Aku lahir pada tanggal 15 Juli 1985 sebagai anak bungsu dari 4 bersaudara. Kakakku 2 perempuan (nomor 1 dan 3) dan 1 laki-laki (nomor 2). Papiku seorang wiraswasta dan Mamiku seorang ibu rumah tangga. Aku asli orang Jawa, kedua orang tuaku berdarah Solo – Jawa Tengah.
Dari lahir sampai kuliah S1, aku tinggal di Solo bersama keluarga. Lulus kuliah, aku melanjutkan S2 dan bekerja di Jogja. Aku tinggal bersama kakak sulungku. Weekdays aku di Jogja dan weekend pulang ke Solo. Selama masih memiliki orang tua, kewajibanku adalah berbakti dan menemani mereka selagi aku masih bisa.

Me and Life
Aku orang yang tertutup, terutama untuk hal-hal yang bersifat pribadi. Aku bukan tipe orang yang mudah untuk membuka diri kepada orang lain. Dari sahabat-sahabat dekat yang aku miliki, hanya satu-dua yang benar-benar tau tentang kehidupan pribadiku. Karena bagiku itu adalah privasi. Aku lebih suka menyimpan kisah hidupku untuk diriku sendiri.
Seperti manusia lainnya, aku punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihanku biar orang lain yang menilainya sendiri. Kalau kelemahanku itu moody, pelupa, kaku untuk hal-hal tertentu, dan tidak mudah memulai komunikasi dengan orang baru.
Hobiku ada banyak: membaca, menyanyi, nonton film, memasak, mendengarkan lagu, jalan-jalan, dan menulis. Aku tidak bisa lepas dari musik, setiap hari pasti mendengarkan lagu. Lagu yang sering aku dengarkan pop dan instrument, tapi RnB dan jazz kadang juga jadi pilihan. Kalau buku kesukaanku adalah novel, agama, dan pengembangan diri, tapi belakangan mulai sering baca tentang motivasi juga. Sedangkan film kesukaanku drama dan action, serial drama Korea juga suka.
Aku paling betah di rumah. Tempat favoritku adalah kamar dan dapur. Di kamar aku bisa baca, nulis, nonton film, dengerin lagu, atau santai. Kalau di dapur aku bisa bereksperimen masak atau bikin roti, mulai dari sekedar coba-coba sampai yang serius bikin.


Me and Friends
Aku punya banyak teman, mulai dari teman biasa, teman baik, hingga teman dekat. Bagiku teman adalah salah satu pelengkap yang mengisi hidup dengan keindahan. Bersama mereka, banyak cerita yang tercipta. Ketika sudah tidak bersama dengan mereka, kenangan kebersamaan yang pernah ada akan selalu tersimpan dalam hati. Walaupun berjauhan, tapi akan tetap saling mengingat.
Dari banyak teman yang aku punya, ada yang menjadi sahabatku. Dalam diri mereka aku menemukan kecocokan yang membuat kita menjadi akrab. Dari sahabat-shabat yang aku punya, ada beberapa yang sangat dekat denganku, bahkan sudah seperti saudara. Bersama mereka aku bisa berbagi apa saja, menangis, dan tertawa tanpa harus merasa canggung. Aku bisa menjadi diriku sendiri.

Me and Love
Prinsipku untuk menjalani proses penjajakan dengan seseorang adalah dengan menjalin kedekatan. Cara itu membuatku merasa lebih nyaman. Kalau sudah menemukan yang tepat dan hati mantap, baru memutuskan untuk menikah. Dengan begitu aku merasa aman melakukan “kontak fisik” dengan orang yang sudah halal untukku.
Tapi bukan berarti aku tidak pernah dekat dengan seseorang. Aku pernah beberapa kali dekat dengan seseorang, bahkan ada yang mengukir kisah panjang selama 8,5 tahun. Tapi sekarang semuanya hanya menjadi teman baik. Saat sesuatu berakhir, bukan berarti harus bermusuhan bukan? Menjaga tali silaturrahim itu kan lebih baik.
Pada akhirnya, aku yakin suatu saat nanti akan menemukan seseorang yang tepat. Semua hanya masalah waktu, sabar saja untuk menunggu dengan terus berdo’a dan berusaha. Aku percaya dengan janji Allah, semua akan indah pada waktunya.

Me and Religion
Dulu aku bukan orang yang rajin beribadah. Sholatku masih suka bolong-bolong dan waktunya masih mepet-mepet. Tapi setelah umur 20 tahun lebih, aku mulai merasa malu karena beribadahnya masih sesuka hati. Kemudian aku berusaha untuk bisa sholat 5 waktu setiap hari dan jamnya tidak mepet.
Tahun 2008, aku mulai ada keinginan untuk berhijab. Aku mulai share dengan teman-temanku yang berhijab. Tapi keinginanku saat itu belum terlalu kuat, aku ingin memperbaiki ibadahku lebih dulu. Aku pun mulai menjalankan puasa Senin-Kamis, sholat Dhuha dan Tahajjud, rajin bersedekah, serta mengaji. Aku berusaha untuk menjalaninya secara continue.
Memasuki tahun 2010, aku rajin membeli buku agama Islam untuk menambah pengetahuan agamaku. Tepat bulan Agustus saat puasa Ramadhan, aku mantap untuk berhijab. Menutup tubuhku dengan pakaian yang tertutup dan membalut kepalaku dengan jilbab.
Kemantapan untuk menutup aurat itu datang dari sebuah mimpi. Saat malam bulan Ramadhan, aku bermimpi diriku meninggal dan saat itu belum berhijab. Dalam mimpi itu, aku (rohku) melihat diriku sudah menjadi jenazah yang dilayat banyak orang. Lalu aku (rohku) menangis hebat dan memohon kepada Allah untuk diberi kesempatan hidup lagi agar aku bisa berhijab dan memperbaiki diri. Aku ingin beribadah lebih baik lagi. Lalu aku terbangun dari tidurku dalam keadaan wajah dan bantal basah. Ternyata aku benar-benar menangis dalam tidurku.
Setelah kesadaranku utuh, aku melihat jam, pukul 2.30 dini hari. Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambil air wudhu. Aku sholat Tahajjud dan memanjatkan do’a lama sekali. Aku menangis ketika bermunajat kepada Allah. Saat itu aku membulatkan tekad dan memantapkan hatiku untuk berhijab.
Keesokan harinya di hari pertama puasa Ramadhan (Agustus 2010), aku “lahir” menjadi manusia baru dengan penampilan yang tertutup. Aku sangat yakin dengan keputusanku. Aku pun berjanji dalam hati untuk selamanya seperti itu. Bismillah semoga aku bisa istiqomah.
Waktu terus berputar dan Alhamdulillah aku sangat nyaman dengan penampilan tertutup ini, walaupun aku menyadari masih banyak kekurangan dalam diriku. Aku belum bisa mengenakan gamis atau pakaian yang longgar dan jilbab yang besar untuk sehari-hari. Dalam pergaulan pun aku belum bisa tidak bersentuhan (tangan) dengan lawan jenis. Ibadahku belum sempurna dan pengetahuan agamaku juga masih kurang.
Tapi dalam diriku selalu ada keinginan untuk terus memperbaiki ibadah dan memperbaiki diri. Setiap hari aku terus belajar untuk menjadi lebih baik. Aku banyak membaca, mendengarkan, dan bertanya agar pengetahuan agamaku terus bertambah. Karena menjadi seorang muslimah yang sholeha adalah impianku.

Me and Education
Aku sekolah di TK Islam NDM, SD Muhammadiyah 1, SMP Negeri 1, dan SMU Negeri 1. Dalam bidang akademik, aku biasa saja. Saat di bangku SD aku sering masuk rangking 10 besar, tapi saat SMP dan SMU tidak.
Tahun 2003 aku lulus SMU dan melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum UNS. Masa perkuliahan aku tempuh selama 3 tahun 9 bulan dengan IPK 3,3. Bulan Pebruari 2008, aku melanjutkan S2 Magister Hukum dengan konsentrasi Bisnis di UGM. Masa perkuliahan lancar selama 3 semester. Tapi tesis mengalami kendala karena pembimbingnya yang super duper susah, sehingga memakan waktu 2 tahun. Aku pun harus rela lulus dalam waktu 4 tahun, masa perkuliahan yang cukup lama untuk S2.
Di bulan yang sama Pebruari 2008, aku juga mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) selama 2 bulan di UII. Kemudian magang dan mengikuti ujian Advokat PERADI. Alhamdulillah ujian yang terkenal sangat susah (kuota kelulusan tidak mencapai 50%) itu berhasil aku lewati. Aku lulus hanya dalam 1 kali ujian saja. Banyak peserta lain yang harus mengulang ujian, bahkan ada yang berkali-kali baru bisa lulus.
Setelah ini aku masih menyimpan impian untuk sekolah lagi, entah di luar bidang hukum, melanjutkan S3, atau mengikuti kursus. Karena ilmu itu sangat luas, tidak ada batasan bagi siapapun untuk mencarinya. Ilmu adalah bekal hidup bagi manusia di dunia dan akhirat.

Me and Job
Tahun 2009 aku lulus ujian Advokat PERADI, tapi belum bisa dilantik karena umurku belum cukup. Baru pada bulan Desember 2011, aku resmi dilantik sebagai Advokat di Semarang oleh Ketua DPP PERADI dan disumpah oleh Ketua Pengadilan Tinggi Semarang.
Saat ini aku belum mendirikan kantor sendiri, aku masih ikut di kantor seorang Advokat senior di Yogyakarta. Alasannya karena aku masih ingin menimba ilmu dan mengumpulkan pengalaman untuk mematangkan diri. Setelah nanti benar-benar siap, aku akan mandiri dengan membuka kantor sendiri.
Aku juga memiliki keinginan lain. Aku ingin punya bisnis atau usaha lain di luar bidang hukum. Karena aku menyukai kuliner, aku bercita-cita membuka restoran dan bakery. Tapi kemampuanku di dapur masih terbatas, jadi aku akan mengikuti kursus terlebih dahulu dan mencari chef yang handal sebelum memulai bisnis kuliner.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar