Begitu hening, hampir tidak ada suara
di sekeliling. Suasana di dalam kamarnya sangat tenang. Hanya terdengar gerakan
anggota tubuhnya yang sedang bersujud di sepertiga malam.
Usai mengucapkan salam, kedua
tangannya menengadah dan bibirnya bersuara lirih. Khusyu' sekali ia
menenggelamkan diri untuk menguntai do'a dan merangkai pinta kepada Sang
Pencipta. Air matanya perlahan mengalir tanpa disadarinya.
"Ya Allah, waktu telah
menyembuhkan luka di hatiku. Semua itu karena-MU. Terima kasih Engkau telah
menunjukkan jalan terbaik untukku. Engkau telah menjagaku dan memberikan
kebaikan untukku. Walaupun pahit rasanya, tapi aku yakin dengan jalan-MU.
Berilah aku seorang imam yang baik untuk membimbingku di dunia dan membawaku ke
surga. Akan ku berikan hidupku untuk mengabdi padanya agar aku dapat meraih
ridho dari-MU."
Setelah melipat mukena dan
mengembalikan ke tempatnya, ia duduk di atas kasur. Tangannya membuka laci meja
dan mengambil diarynya. Ia membuka dan membaca lembar terakhir yang ditulisnya
9 bulan yang lalu.
Dear Diary..
Malam ini akan menjadi awal yang baru dalam hidupku. Pada akhirnya usai
sudah. Seharusnya aku lakukan beberapa tahun yang lalu. Tidak mengapa aku harus
melewati 8,5 tahun, jika perjalanan panjang ini menjadikanku lebih kuat dan
dewasa. Tuhan telah menjadikan setiap tetes air mataku sebagai kekuatan dan segala
lukaku sebagai keikhlasan. Aku harus melanjutkan hidupku. Aku yakin Tuhan akan
mengganti seluruh pengorbananku dengan kebahagiaan yang indah suatu hari nanti.
Mei 2013
Aina
Ia menutup diarynya dan memasukkan
kembali ke dalam laci. Ia menghela nafas panjang dan tersenyum.
"Terima kasih, Ya Allah. Aku
mampu melewati masa-masa sulitku. Aku percaya pada-Mu, Engkau akan selalu
menuntunku. Aku yakin dengan janji-MU, segalanya akan indah pada waktunya.
Dengan do'a, aku akan sabar menunggu saat itu tiba."
Ia menarik selimut dan meredupkan
lampu kamar. Masih ada waktu dua jam untuk melanjutkan tidur sebelum adzan
Shubuh berkumandang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar